Saturday, November 8, 2014

Osho's Wisdom

"In fact a mature person does not fall in love, he rises in love. The word ’fall’ is not right. Only immature people fall; they stumble and fall down in love. Somehow they were managing and standing. They cannot manage and they cannot stand – they find a woman and they are gone, they find a man and they are gone. They were always ready to fall on the ground and to creep. They don’t have the backbone, the spine; they don’t have that integrity to stand alone.

A mature person has the integrity to be alone. And when a mature person gives love, he gives without any strings attached to it: he simply gives. And when a mature person gives love, he feels grateful that you have accepted his love, not vice versa. He does not expect you to be thankful for it – no, not at all, he does not even need your thanks. He thanks you for accepting his love. And when two mature persons are in love, one of the greatest paradoxes of life happens, one of the most beautiful phenomena: they are together and yet tremendously alone; they are together so much so that they are almost one. But their oneness does not destroy their individuality, in fact, it enhances it: they become more individual.

Two mature persons in love help each other to become more free. There is no politics involved, no diplomacy, no effort to dominate. How can you dominate the person you love? Just think over it. Domination is a sort of hatred, anger, enmity. How can you think of dominating a person you love? You would love to see the person totally free, independent; you will give him more individuality. That’s why I call it the greatest paradox: they are together so much so that they are almost one, but still in that oneness they are individuals. Their individualities are not effaced – they have become more enhanced. The other has enriched them as far as their freedom is concerned.

Immature people falling in love destroy each other’s freedom, create a bondage, make a prison. Mature persons in love help each other to be free; they help each other to destroy all sorts of bondages. And when love flows with freedom there is beauty. When love flows with dependence there is ugliness"
—  Osho

Monday, October 13, 2014

Gelisah Harta

Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah...
Subhanallah, subhanallah, subhanallah...
Allahuakbar, allahuakbar, allahuakbar...

Ketika gusar, maka kita merasa dekat dengan yang Maha Besar
Ketika khawatir, maka kita menyerahkan semuanya ke Yang Akhir
Lelucon ya?

Mungkin ini rasanya kaya raya,
Membuat tidak tenang, kata orang
Dihantui kata hilang setiap saatnya.

Mari berpikir kembali,
Seharusnya rasa itu alami,
Materi atau ilusi,
Kekayaan adalah kekayaan.

Apakah Tuhan menciptakan gelisah sebagai cara menghargai? Mensyukuri?
Atau mungkin cara mempersiapkan diri?

Entah, entah, entah.

Nggak mau tau.
Maunya ngaku,
Aku gelisah akan kehilangan harta, ya kamu.

Friday, October 3, 2014

Kedua Sisi Maaf

Mereka bilang dia kriminal.
Ada yang bilang karena dia memang jahat.
Ada yang bilang karena didasari hal yang paling baik. 
Terus kita tinggal memilih deh, mau lihat dari sudut mana.
Setidaknya itu yang diajarkan kepada kita.
Untuk tidak hanya melihat satu sisi.

Emang sih emang,
Kita tumbuh bersama kedua sisi.
Ya meskipun sisi-sisi yang terkesan bermusuhan makna.

Terus di umur segini saya baru sadar
Kalau dua sisi juga bisa berdampingan.

Kenalin, namanya Maaf.
Maaf ini dikenal orang sebagai perjanjian untuk menghentikan sikap "salah" sehingga tidak bersifat repetitif.
Seperti ucap anak sekolah dasar yang baru saja mencontek temannya ketika ketahuan gurunya.
Maaf juga dikenal sebagai alat mempermudah dalam kalimat yang sulit atau bahkan obat kuat dalam kalimat yang berani
Seperti ucap petugas KRL yang mensosialiasikan stok karcis habis.
Ribet ya?

Intinya sih satu, kedua sisi Maaf ini tidak berlawanan.
Kawan? Mungkin.
Bebannya? Bisa jadi sama-sama nyusahin malah.
Maaf ya, Maaf.
Kamu adalah salah satu bentuk ketulusan,
Tapi saya jadiin material nestapa malam ini.
Kalo boleh nanya sama Maaf,
Kok kamu mau sih dilihat dalam dua sisi?

Maaf.

Tuesday, June 10, 2014

Apa Sayang?

Sayang itu apa?

Jangan tanya
Karena bukan kata
Melainkan rasa
Dari skala kecil hingga raksasa Reaksi yang bervariasi


Tapi bolehlah kita bercerita
Sayang apa yang alam gambarkan

Sayang itu kesiapannya untuk sama-sama gegabah
Sayang itu dengkuran dari instrumen bibir terlelapnya
Sayang itu keluh kesah pasca tertinggal keretanya
Sayang itu canda-canda kanibalnya
Sayang itu penolakannya akan kalkulasi logika
Sayang itu nafsu karaokenya dari Oasis sampai John Legend
Sayang itu kemauannya untuk tetap jalan sama-sama meski tanpa peta


Sayang itu..
Jangan tanya
Tapi kalau kamu mau lagi,
Sebut tanpa ragu
Apa lagi, sayang?

Friday, April 25, 2014

Topik Baik

"Hai, apa kabar?"

"Saya juga baik.."

"Bagaimana baik?"

"Sama. Saya juga merindukannya."

"Hahaha.. iya. Dulu dia selalu menjadi topik sehari-hari kita.."

"Oiya? Hahaha! Bahkan saya lupa bagian itu. Mengungkitnya ketika kita merasa bersalah. Dulu kita sememalukan itu ya?"

"Hahaha.. Tapi saya senang bisa membahasnya kembali bersamamu."

"Sepertinya memang kebaikan jarang menjadi topik saat ini.."

Sunday, March 2, 2014

Munafik Biar Asik

5 bulan delapan hari berlalu.
5 bulan tujuh hari aku masih berdiri di tempat yang sama.

Ketika kumiliki persinggahan baru, mengapa kau biarkan diriku lupa akan sedih dan tawa yang telah kutoreh sendiri disini?

Toreh. Terdengar berlebihan ya?
Ya deh.. Tekan-tekan tombol lebih terdengar asik
Untuk si munafik.

Kok marah? Bukannya memang benar begitu?
Biar munafik yang penting asik.

Aku terlarut dalam badai yang orang dewasa bilang "realita setelah wisuda".
Aku mulai putus asa, dari sakit hati, hati-hati sampai naik kereta api untuk kembali berani sakit hati.
Aku punya siapa? Sahabat-sahabat pengertian yang memang belum mengerti namun tetap mencoba.
Dan kamu, entah apa dan siapa. Setidaknya hanya dengan tekan-tekan tombol, aku merasa berhasil menyampaikan catatan badai tempo lalu kepadamu dengan sempurna.. dan asik.

Lalu kumenemukan kapal, ku berhasil. Lalu aku lupa kamu.

Maafin ya?
Ya deh. Emang aku sibuk..
Yang penting keliatan asik kan?

Sekali lagi, biar munafik yang penting asik.

Sampai bertemu di badai berikutnya.