Harum surabi dan perbincangan bapak-bapak paruh baya menjadi pengiring malam ini. Lalu ditambah oleh waiter dengan senandung James Blunt dari speaker 10 cm tua yang dipasang di setiap sudut dinding ruangan.
Did I disappoint you or let you down?
Should I be feeling guilty or let the judges frown?
'Cause I saw the end before we'd begun,
Yes I saw you were blinded and I knew I had won.
"Enak nggak sih surabinya menurut lo?"
"Lumayanlah. Gue sih nggak terlalu suka surabi cuman emang yang ini cocok aja sama lidah gue"
"Enakan mana sama serabi?"
"Emm... enakan sorabi."
"Hahaha... Banyak nama arti sama."
Seperti biasanya, setiap malam Sabtu sepulang kantor saya habiskan dengan hang out ringan, di kedai surabi sederhana daerah Jakarta Selatan. Bedanya kali ini saya tidak bersama teman kantor melainkan seseorang yang saya kenal sejak SMA. Dia seseorang yang random dan selalu mempunyai pertanyaan menggelitik dengan insight menarik.
"Gimana pekerjaan lo?," tanyanya.
"Biasalah..," balas dia, dilanjut dengan tawa ringan.
"Biasa dipecat?"
"Hahahahahahaha..."
"Tuhkan..."
Tidak berubah, dia masih lebih mementingkan angka-angka diatas 8 saat pagi hari. Bakat ada namun dia lebih memilih untuk menyembunyikannya dengan ego.
"Mau sampai kapan?" Agak kesal saya bertanya. Mungkin karena saking kasiannya mengingat orang tuanya sudah terlalu tua untuk membiayai dia lagi.
"Hmm.. Sampai bosen."
"Kapan?"
"Tanya surabi gue aja nih. Dia tau kali."
"Yeeee.."
Uniknya di kondisinya yang seperti ini dia masih bisa tertawa seakan-akan semua baik-baik saja. Saya harus mengakui kalau memang ada sisi menarik dalam bagaimana dia menjalani hidup, seakan-akan semua masalah hanyalah angin lewat baginya.
"Gini aja, gimana kalau kita buat perjanjian."
"Perjanjian? Berani janjiin apa lo ke gue?," balasnya dengan mengerenyitkan dahinya, seakan-akan mencium sesuatu yang menarik.
"Iye, surabi ini saksinya. Lo harus janji untuk serius dalam pekerjaan lo berikutnya."
"Terus peran lo apa?"
"Gue? Gue janji gue bakal nasehatin lo terus kayak gini. Hahahaha..." Saya tertawa sekiranya untuk menutupi kehabisan ide apa lagi agar dia mau serius.
Goodbye my lover.
Goodbye my friend.
You have been the one.
You have been the one for me.
"Hehehe.." tawa ringannya tersirat, kali ini ada rasa lelah.
"Gue nggak yakin gue bisa nikmatin hasil kerja keras gue. Gue nggak yakin bisa happy atas usaha gue sendiri. Okay, gue happy cuman apa artinya happiness kalau lo nggak bisa share dengan orang yang lo sayang?"
I'm so hollow, baby, I'm so hollow.
I'm so, I'm so, I'm so hollow.
I'm so hollow, baby, I'm so hollow.
I'm so, I'm so, I'm so hollow.
"Lo yakin, Gemini? Move on aja susah." Timbal saya. Mengakhir perbincangan kita.