Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah...
Subhanallah, subhanallah, subhanallah...
Allahuakbar, allahuakbar, allahuakbar...
Ketika gusar, maka kita merasa dekat dengan yang Maha Besar
Ketika khawatir, maka kita menyerahkan semuanya ke Yang Akhir
Lelucon ya?
Mungkin ini rasanya kaya raya,
Membuat tidak tenang, kata orang
Dihantui kata hilang setiap saatnya.
Mari berpikir kembali,
Seharusnya rasa itu alami,
Materi atau ilusi,
Kekayaan adalah kekayaan.
Apakah Tuhan menciptakan gelisah sebagai cara menghargai? Mensyukuri?
Atau mungkin cara mempersiapkan diri?
Entah, entah, entah.
Nggak mau tau.
Maunya ngaku,
Aku gelisah akan kehilangan harta, ya kamu.
Monday, October 13, 2014
Friday, October 3, 2014
Kedua Sisi Maaf
Mereka bilang dia kriminal.
Ada yang bilang karena dia memang jahat.
Ada yang bilang karena didasari hal yang paling baik.
Terus kita tinggal memilih deh, mau lihat dari sudut mana.
Setidaknya itu yang diajarkan kepada kita.
Untuk tidak hanya melihat satu sisi.
Emang sih emang,
Kita tumbuh bersama kedua sisi.
Ya meskipun sisi-sisi yang terkesan bermusuhan makna.
Terus di umur segini saya baru sadar
Kalau dua sisi juga bisa berdampingan.
Kenalin, namanya Maaf.
Maaf ini dikenal orang sebagai perjanjian untuk menghentikan sikap "salah" sehingga tidak bersifat repetitif.
Seperti ucap anak sekolah dasar yang baru saja mencontek temannya ketika ketahuan gurunya.
Maaf juga dikenal sebagai alat mempermudah dalam kalimat yang sulit atau bahkan obat kuat dalam kalimat yang berani
Seperti ucap petugas KRL yang mensosialiasikan stok karcis habis.
Ribet ya?
Intinya sih satu, kedua sisi Maaf ini tidak berlawanan.
Kawan? Mungkin.
Bebannya? Bisa jadi sama-sama nyusahin malah.
Maaf ya, Maaf.
Kamu adalah salah satu bentuk ketulusan,
Tapi saya jadiin material nestapa malam ini.
Kalo boleh nanya sama Maaf,
Kok kamu mau sih dilihat dalam dua sisi?
Maaf.
Ada yang bilang karena dia memang jahat.
Ada yang bilang karena didasari hal yang paling baik.
Terus kita tinggal memilih deh, mau lihat dari sudut mana.
Setidaknya itu yang diajarkan kepada kita.
Untuk tidak hanya melihat satu sisi.
Emang sih emang,
Kita tumbuh bersama kedua sisi.
Ya meskipun sisi-sisi yang terkesan bermusuhan makna.
Terus di umur segini saya baru sadar
Kalau dua sisi juga bisa berdampingan.
Kenalin, namanya Maaf.
Maaf ini dikenal orang sebagai perjanjian untuk menghentikan sikap "salah" sehingga tidak bersifat repetitif.
Seperti ucap anak sekolah dasar yang baru saja mencontek temannya ketika ketahuan gurunya.
Maaf juga dikenal sebagai alat mempermudah dalam kalimat yang sulit atau bahkan obat kuat dalam kalimat yang berani
Seperti ucap petugas KRL yang mensosialiasikan stok karcis habis.
Ribet ya?
Intinya sih satu, kedua sisi Maaf ini tidak berlawanan.
Kawan? Mungkin.
Bebannya? Bisa jadi sama-sama nyusahin malah.
Maaf ya, Maaf.
Kamu adalah salah satu bentuk ketulusan,
Tapi saya jadiin material nestapa malam ini.
Kalo boleh nanya sama Maaf,
Kok kamu mau sih dilihat dalam dua sisi?
Maaf.
Subscribe to:
Posts (Atom)