Cinta.
Duileh, baru satu kata tapi rasanya melodrama.
Sebenernya gue malas menulis kata cinta.
Aspirasi komersil. Dari musik, film bahkan sampai iklan.
Tapi cinta nggak salah, hanya karena semata kesan kuat dari bibir media
Coba sekali lagi ya?
Cinta.
Nggak berubah. Tapi terasa lebih biasa.
Karena cinta telah biasa menjadi kata penuh makna lain
Seperti kata yang kerap dijadikan tolak ukur kelabilan,
atau tolak ukur budaya satu individu,
sehingga yang tak sesuai standar siap menerima gelar S.Al.
Bukan, bukan Sarjana-sesuatu; Si Alay.
Belum puas, kasih makan ambisi sekali lagi.
Cinta…
Ah elah.
Mungkin diri ini kurang relevan dengan Sang Kata.
Padahal cukup menikmati,
baik ketika mengamati,
maupun ketika tenggelam dalam hati.
Karena Sang Kata bisa terlihat semudah itu,
Dalam lantunan nyanyian alfabet yang terdengar dari rumah bimbel terdekat.
Dalam cabai yang disisihkan di pinggir piring nasi goreng si 5 tahun.
Dalam argumen politik kedua individu lanjut usia.
Bahkan ada dalam permainan lidah sumpah serapah kita,
Maka Sang Kata tak perlu ada,
karena mata sudah menyaksikan jutaan bukti nyata.
Wednesday, July 1, 2015
Monday, March 30, 2015
Sering-Seringnya Sekarang
Seringnya,
gue nulis ketika ada satu peristiwa
Sekarang,
gue nulis karena tak ada peristiwa
Atau mungkin menganggap semuanya istimewa
Seringnya,
gue semakin karena ada yang menjadi
Sekarang,
gue menjadi karena semuanya terasa semakin
Seringnya,
sayang karena pesona
Sekarang,
sayang tanpa karena
dan berkembang
Gue, elo.
Istimewa tanpa peristiwa.
Menjadi semakin menjadi.
Sayang berkembang sayang.
PS: There's no such thing as "too soon." I greet love because it's the decision that I made long before we are now. That's the first phase of how I fight my feeling. To say easily, but proclaim it, and feel it no matter how scary future waits for us.
gue nulis ketika ada satu peristiwa
Sekarang,
gue nulis karena tak ada peristiwa
Atau mungkin menganggap semuanya istimewa
Seringnya,
gue semakin karena ada yang menjadi
Sekarang,
gue menjadi karena semuanya terasa semakin
Seringnya,
sayang karena pesona
Sekarang,
sayang tanpa karena
dan berkembang
Gue, elo.
Istimewa tanpa peristiwa.
Menjadi semakin menjadi.
Sayang berkembang sayang.
PS: There's no such thing as "too soon." I greet love because it's the decision that I made long before we are now. That's the first phase of how I fight my feeling. To say easily, but proclaim it, and feel it no matter how scary future waits for us.
Tuesday, February 10, 2015
Hujan dan Hujan
Ada salam dari rintik-rintik
Awalnya sih berniat sok asik
Walaupun kadang jatuhnya berisik
Semoga nggak sampai banjir
Karena sang rintik-rintik
Belum ingin bertemu titik
Tertanda, W.A.B
- - - - -
Dulu,
Kala hujan turun, ku berlari ke tengah jalan
Menari-nari diiringi ritme hujan,
menjulurkan lidah untuk mencicipi hujan,
berusaha memeluk hujan.
Sekarang,
Kala hujan turun.....
.........
.........
.........
.........
Redalah.
Tertanda, A.F.R
Awalnya sih berniat sok asik
Walaupun kadang jatuhnya berisik
Semoga nggak sampai banjir
Karena sang rintik-rintik
Belum ingin bertemu titik
Tertanda, W.A.B
- - - - -
Dulu,
Kala hujan turun, ku berlari ke tengah jalan
Menari-nari diiringi ritme hujan,
menjulurkan lidah untuk mencicipi hujan,
berusaha memeluk hujan.
Sekarang,
Kala hujan turun.....
.........
.........
.........
.........
Redalah.
Tertanda, A.F.R
Subscribe to:
Posts (Atom)