Cinta.
Duileh, baru satu kata tapi rasanya melodrama.
Sebenernya gue malas menulis kata cinta.
Aspirasi komersil. Dari musik, film bahkan sampai iklan.
Tapi cinta nggak salah, hanya karena semata kesan kuat dari bibir media
Coba sekali lagi ya?
Cinta.
Nggak berubah. Tapi terasa lebih biasa.
Karena cinta telah biasa menjadi kata penuh makna lain
Seperti kata yang kerap dijadikan tolak ukur kelabilan,
atau tolak ukur budaya satu individu,
sehingga yang tak sesuai standar siap menerima gelar S.Al.
Bukan, bukan Sarjana-sesuatu; Si Alay.
Belum puas, kasih makan ambisi sekali lagi.
Cinta…
Ah elah.
Mungkin diri ini kurang relevan dengan Sang Kata.
Padahal cukup menikmati,
baik ketika mengamati,
maupun ketika tenggelam dalam hati.
Karena Sang Kata bisa terlihat semudah itu,
Dalam lantunan nyanyian alfabet yang terdengar dari rumah bimbel terdekat.
Dalam cabai yang disisihkan di pinggir piring nasi goreng si 5 tahun.
Dalam argumen politik kedua individu lanjut usia.
Bahkan ada dalam permainan lidah sumpah serapah kita,
Maka Sang Kata tak perlu ada,
karena mata sudah menyaksikan jutaan bukti nyata.
No comments:
Post a Comment