Thursday, August 23, 2012

Hasil Pertandingan

"Yang sampai warung si ncik duluan dia yang menang ya!"
"Bener ya? Hayuk!"
"Satu... Dua.. Tiga!"

Jaman dulu, seperti itulah kita melihat menang dan kalah.
Sekarang? Tidak hanya hitam putih, abu-abupun berperan.

"Aku berasa pemenang nih bisa duduk disini sama kamu hehehehe..."
"Pemenang? Ah.. Kalau pemenang berarti kamu nggak boleh nyesel ya sampai kapanpun!"

Pagi siang sore malam subuh.
Berputar tak kenal lelah.
Menang kalah menang kalah menang kalah, masalah?

"Kenapa kita harus duduk disini lagi?"
"Nyesel? Katanya pemenang."

Mati. Hahahaha...

"Bisa survive sejauh ini, bisa cuek sama fakta kalau kamu kesini bukan untuk aku lagi, bahkan bisa peluk orang lain walaupun dengan rasa yang berbeda, aku udah ngerasa pemenang kok."

Karena perkara menang kalah sudah ada porsinya masing-masing. Pret.

Saturday, August 4, 2012

Terima Kasih Takut

"Ah, cupu. Prove it if you really need her." geram sahabatnya. Dia, seorang pria yang ambisius. Dia, mempunyai mimpi yang tak habis-habis. Namun dia, tetap berusaha untuk mensyukuri bahagia di setiap sudut momennya. Dia bahkan merasa percaya diri akan pemikiran-pemikiran rasional yang telah dibangun dalam dirinya sejak dulu.

Hingga akhirnya, emosi menjajah hidupnya. Iya, sejak kupu-kupu menemukan jalan pintas ke tubuhnya. Ah, dia menginjak kotak start penuh arti sementara fakta bernama kehilangan sudah stand by di beberapa kotak sebelum kotak finish kertas ular tangganya.

Logika. Emosi. Logika. Emosi. Logika. Sosok ketiga? Tahan, dia lebih memilih untuk memecat gengsi. Karena menurut penulis, semua akan indah pada waktunya. Dan dia berharap bisa mengerti segalanya. Maka dia berterima kasih kepada takut yang menghantui di awal kisah, karenanya dia merasa terlindungi dari kejutan di akhir bulan. "Sekali lagi, terima kasih takut".

Macaca fascicularis.