Saturday, August 4, 2012

Terima Kasih Takut

"Ah, cupu. Prove it if you really need her." geram sahabatnya. Dia, seorang pria yang ambisius. Dia, mempunyai mimpi yang tak habis-habis. Namun dia, tetap berusaha untuk mensyukuri bahagia di setiap sudut momennya. Dia bahkan merasa percaya diri akan pemikiran-pemikiran rasional yang telah dibangun dalam dirinya sejak dulu.

Hingga akhirnya, emosi menjajah hidupnya. Iya, sejak kupu-kupu menemukan jalan pintas ke tubuhnya. Ah, dia menginjak kotak start penuh arti sementara fakta bernama kehilangan sudah stand by di beberapa kotak sebelum kotak finish kertas ular tangganya.

Logika. Emosi. Logika. Emosi. Logika. Sosok ketiga? Tahan, dia lebih memilih untuk memecat gengsi. Karena menurut penulis, semua akan indah pada waktunya. Dan dia berharap bisa mengerti segalanya. Maka dia berterima kasih kepada takut yang menghantui di awal kisah, karenanya dia merasa terlindungi dari kejutan di akhir bulan. "Sekali lagi, terima kasih takut".

Macaca fascicularis.

No comments:

Post a Comment