Wednesday, April 4, 2012

Romansa Sederhana

I may be right, I may be wrong,
But I'm perfectly willing to swear
That when you turned and smiled at me
A nightingale sang in Berkeley Square

Jam menunjukan pukul 10 malam. Senyumnya terbentuk malu-malu. Lantunan jazz Rod Stewart bergesekkan dengan dentingan dari cangkir-cangkir kosong yang beradu ketika diangkat oleh waiter. Mengaduk teh hangat dengan sendok mungilnya, menjadi pelindung dari apa yang dia rasakan sekarang. Tak ada kontak mata! Ya, tak ada hingga kehangatan dirasakan oleh tangannya. Dia sedikit tertegup dan menatap seakan-akan matanya berkata seribu bahasa yang hendak disampaikan oleh hatinya. Kini terlihat, ketulusan mengusir rasa malunya. Aku nyaman bisa melihatnya. Tapi memang dialog kali ini sepertinya dikuasai oleh keheningan dan tatapan penuh arti, mungkin bibir merasa kecewa. Aku menebak bahwa tak ada kata yang berani mewakilkan dirinya untuk menggambarkan rasa.

Beberapa pengunjung lain berusaha tidak melihat adegan ini, entah mereka merasa terlalu berpengalaman dalam hal cinta atau memang mereka merasa terlalu klise untuk menyaksikan ketulusan sehingga mengatas-namakan drama sebagai sesuatu yang menggelikan. Tak peduli, yang aku percaya saat seperti ini memang harus dinikmati. Helaian rambutnya begitu mempesona, ditambah senyuman sederhana yang terlalu berarti.

"Maaf mengganggu, setengah jam lagi kita tutup. Ada yang mau dipesan lagi?" Dengan sangat menyesal aku harus memecah suasana manis kedua pasangan ini. Aku terlalu sejuk memandang mereka dari meja resepsionis.

"Oh, nggak kok. Kita udah selesai. Boleh minta bill-nya, Mas?" Jawab pasangan si manis. Dengan sigap aku segera memberikan bill-nya sambil senyum menambahkan, "Bahagia itu sederhana ya? Mampir lagi ya."

Dengan jawaban non-verbal yang berarti mengiyakan, lalu mereka meninggalkan cafe ini dengan tawa kecil.

No comments:

Post a Comment