Friday, October 5, 2012

Cinderella Ribet

Di ruangan ini aku seperti di-intimidasi untuk merasa nikmat. Warna-warni yang menghiasi sudut-sudut ruangan ini seakan-akan menutupi keburukan yang pernah ada. Berapa ratusan air mata ya yang pernah menetes disini? Sendirian, aku mulai takut seakan-akan terjebak dalam permainan yang membungkus keluh dan kesah.

"Coba baca yang ini.. Ini tentang Cinderella. Kamu tahu kan Cinderella?" Senyum seorang wanita kepadaku yang muncul dari balik pintu sambil menggengam buku. Bibir ini tak mau menjawab seakan-akan aku tidak tahu. Aku hanya bosan dengan Cinderella, gara-gara pesta dansa aja dibuat ribet.

Wanita tersebut mulai bercerita. Apron berwarna putih kusamnya dan muka agak lusuhnya terlihat seperti tanda lelah. Hebat, dia masih bisa tersenyum sambil menyampaikan kata demi kata dalam dongeng tersebut. Entah kenapa aku yakin ada duri-duri beracun dibaliknya, atau mungkin air liurnya adalah obat bius alami.

Aku mulai tidak betah. Jantung berisik dan mengganggu mata. Tak tahan lagi, air mata menjelaskan semuanya.

"Mamaaaaaa dimanaaaa? Ade mau pulaaaaang.... Adeeee nggak sukaaaa disiniiiii... Huwaaaahhh hiks hiks huwaaaaa...."

Aku benci tempat penitipan anak ini.

No comments:

Post a Comment