Satu dua tiga empat
Kamu bilang utara dan aku bilang selatan.
Beda ya biasa.
Kamu caci maki hujan, padahal hatimu tumbuh dalam mendungnya.
Kali ini nggak biasa.
Apa sih yang kamu cari?
Satu dua tiga tak ada cahaya.
Kalau begitu biarkan aku pelajari gelapnya imajinasi dirimu.
Aku ingin mengerti
Jalan buntu hadir dengan begitu saja.
Lalu aku mencoba untuk mengerta mengertu mengerte mengerto.
Tetap tidak ada arti.
Kayaknya aku harus mencari seminar matematika harapan.
Sulit nggak sulit, semoga setidaknya sertifikat dan goodie bag-nya nggak pahit.
No comments:
Post a Comment