Akhirnya aku sampai, 4 jam perjalanan tak ada artinya demi pantai ini. Ya setidaknya itu alasan yang aku sampaikan ke sahabat-sahabatku di Jakarta, walaupun faktanya aku kesini seorang diri untuk tujuan lain.
Berawal di sebuah situs kencan, hingga akhirnya pantai inilah yang aku tentukan sebagai altar sebuah momen dan rasa.
30 menit berlalu, akhirnya seseorang memecah perhatianku dari sunset yang begitu indah. Terbuktilah betapa mempesonanya dia, tak peduli raut wajahnya yang merasa kurang nyaman karena membuatku menunggu. Sekian detik aku sadar, betapa ruginya jika aku terlalu tenggelam dalam karya-Nya yang cantik ini. Setiap detik berlalu seakan-akan terlalu berharga untuk dilewati sia-sia.
Sore itu seharusnya kurasakan hawanya cukup dingin, namun kehadirannya menghangatkan. Sebuah es kelapa kami minum bersama, bercanda, dan keheningan setiap tatapan terencana menjadikan sore itu lebih indah, walaupun sebelumnya sore-soreku juga indah hanya dengan duduk di kantor dan melihat doodle-doodle gaduh yang selalu dia kirimkan via Yahoo Messenger. Kami berhubungan di dunia maya belum begitu lama, sekitar dua bulan.
Aku bahagia. Aku harap Jakarta dan seisinya bisa mengerti semua anugerah ini. Seketika muncullah sebuah ide gila. Aku sadar Jakarta masih punya harapan, setidaknya untuk diriku. Aku langsung meminangnya di tempat. Ya, terdengar gegabah namun terarah.
"Kamu tahu alasanku untuk tinggal di pantai ini apa?"
"Ya, karena kamu muak dengan Jakarta. Tapi aku yakin ada harapan di setiap kegaduhan."
"Hahahaha.." Dia tertawa seakan-akan aku baru berkata sebuah lelucon.
"Kenapa? Kamu nggak mau ikut aku?"
"Aku mau ikut kok, asal kamu mau izin untuk menikahiku langsung ke pacarku. Dia di Jakarta, terlalu sibuk meniti karir hingga tanpa sadar aku lupa dirinya sesaat."
Dia tidak pernah bilang punya pacar. Rasanya bagai terbentur batu karang. Cerita dua bulan ini buyar seketika dari kepalaku. Aku berniat meminum es kelapa terenak, tanpa perlu kusadari bahwa lidahku masih terasa kopi tanpa gula. Realita mungkin sudah bosan dengan kasus-kasus ini. Mereka bilang kopi darat, aku rasa aku tertiban kelapa darat. Sial.
No comments:
Post a Comment